Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Cerita - Sang Buddha Pelindungku I. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita - Sang Buddha Pelindungku I. Tampilkan semua postingan

04 Juni 2012

Kecantikan Hanya Setipis Kulit Batasnya

Permaisuri Raja Bimbisara bernama, Ratu Khema,
amat memuja kecantikan wajahnya.
Ratu Khema telah mengucapkan permohonannya di kaki Buddha Padumuttara,
ia ingin sekali mempunyai rupa dan wajah yang  cantik.
Tetapi ia mendengar bahwa Sang Buddha Gotama mengatakan,
kecantikan bukan merupakan hal yang utama.

Pada kelahiran-kelahirannya yang terdahulu,
Ratu Khema selalu menjadi wanita yang amat cantik.
Raja Bimbisara yang mengetahui bahwa Istrinya amat mengagumi kecantikan wajahnya
lalu meminta pengarang lagu
untuk menciptakan lagu yang memuji keindahan hutan Veluvana.
Lagu itu kemudian dinyanyikan oleh para penyanyi terkenal.

23 Desember 2010

Bhikkhu dan Makhluk Halus Penghuni Hutan

"Bhikkhu, ketika kamu pergi ke hutan itu untuk pertama kalinya,
kamu tidak membawa "senjata".
Dan sekarang kamu harus membawa "senjata" bila kamu kembali ke sana".


Sang Buddha mengucapkan syair Karaniya Metta Sutta :


Inilah yang harus dilaksanakan
oleh mereka-mereka yang tekun dalam Kebaikan.
Dan telah mencapai ketenangan bathin.
Ia harus pandai, jujur, sangat jujur.
Rendah hati, lemah lembut, tiada sombong.

* * * * *

Kebencian Jangan Dibalas Dengan Kebencian

Sang Buddha berkata:
"Jangan takut, biarkan ia masuk!".

Ketika raksasa itu tiba, Sang Buddha bertanya :
"Samana, mengapa kamu berlaku seperti itu ?
Sekarang kamu berhadapan langsung dengan seorang Buddha.
Mengapa kamu memupuk rasa benci 
terhadap makhluk lain selama berabad-abad lamanya ?

Mengapa kebencian dibalas dengan kebencian?
Kebencian akan berakhir apabila dibalas dengan cinta kasih".

* * *
Sang Buddha lalu mengucapkan syair :

"Kebencian tidak akan pernah berakhir apabila dibalas dengan kebencian.
Tetapi kebencian akan berakhir bila dibalas dengan tidak membenci.
Inilah suatu hukum abadi".
( Dhammapada, Yamaka Vagga no 5 )
* * * * *


Seorang Pemburu Yang Dimangsa

"Jadi", kata Sang Buddha,
"Dalam kehidupannya yang terdahulu,
pemburu Koka berniat melukai orang yang tidak bersalah dan ia memperoleh hukumannya".

Sang Buddha lalu mengucapkan syair:

"Barangsiapa yang berbuat jahat terhadap Orang baik,
Orang suci dan Orang yang tidak bersalah
maka kejahatan akan berbalik menimpa Orang bodoh itu
bagaikan debu yang dilempar melawan angin".
( Dhammapada, Papa Vagga no. 10 )

* * * * *

Cunda si Pemotong Babi

Sang Buddha menjawab:

"O Para Bhikkhu, ia tidak memotong babi selama tujuh hari ini.
Sebagai hukuman atas apa yang dilakukannya selama ini
meskipun ia belum meninggal ia sudah merasakan siksaan Neraka Avici.
Selama tujuh hari ini, ia merangkak ke sana ke mari di dalam rumahnya,
mendengkur dan menjerit-jerit seperti seekor babi.
Hari ini ia meninggal dunia dan terlahir di Neraka Avici".

* * * 
Sang Buddha lalu mengucapkan syair :

"Di dunia ini ia bersedih hati, di dunia sana ia bersedih hati,
pelaku kejahatan akan bersedih hati di kedua dunia itu.
Ia bersedih hati dan meratap
karena melihat perbuatannya sendiri yang tidak bersih".

* * * * *

11 Desember 2010

Sang Buddha Memberi Makan Orang Kelaparan

Setelah Sang Buddha mendengar apa yang mereka bicarakan, Beliau berkata :

"O, Para Bhikkhu, kedatanganKu kemari dengan melalui perjalanan yang berat dan jauh ini
adalah karena Aku melihat orang itu mempunyai kemampuan untuk mencapai Tingkat Kesucian.
Pagi-pagi sekali dengan menahan lapar, ia ke hutan mencari lembunya yang hilang.

Jadi kalau Aku membabarkan AjaranKu kepada orang yang perutnya lapar,
ia tidak akan dapat mengerti apa yang Kuajarkan.
Karena itu Aku melakukan apa yang harus Kulakukan.

O, Para Bhikkhu, kelaparan adalah penyakit yang paling berat".

* * *  
Sang Buddha lalu mengucapkan syair :

"Kelaparan merupakan penyakit yang paling berat.
Segala sesuatu yang berkondisi merupakan penderitaan yang paling besar.
Setelah mengetahui hal ini sebagaimana adanya,
Orang bijaksana memahami bahwa Nibbana merupakan kebahagiaan tertinggi".

( Dhammapada, Sukha Vagga no. 7 )

* * * * *

Mahadhana, Anak Seorang Jutawan

Sang Buddha lalu bercerita :
"Ananda, lihatlah Anak jutawan itu !
Di kota ia menghambur-hamburkan harta kekayaannya sebanyak dua kali delapan ratus juta keping uang.
Sekarang dengan Istrinya, ia menjadi pengemis.

* * *

Setelah berkata demikian, Sang Buddha mengucapkan syair :

"Mereka yang tidak menjalankan kehidupan suci 
serta tidak mengumpulkan bekal (kekayaan) selagi masih muda, 
ia akan merana seperti bangau tua yang berdiam di kolam yang tidak ada ikannya".

( Dhammapada, Jara Vagga no. 10 )

* * * * *

Sopaka Yang Malang

Sopaka sangat heran karena Ayah tirinya berbicara begitu ramah sehingga ia berpikir :

"Ayah tiriku tidak pernah berbicara begitu ramah kepadaku.
Tetapi sekarang kelihatannya amat baik.
Mungkin Ibuku yang memintanya untuk berlaku ramah kepadaku".

Sopaka menjerit sekerasnya. Tetapi Ayah tirinya pergi tanpa memperdulikan Sopaka lagi.

* * * 

"Jangan khawatir, Anakmu selamat. Ia ada di sini".

Mendengar Ajaran Sang Buddha, Ibu Sopaka amat berbahagia,
dan berterima kasih kepada Sang Buddha yang telah menyelamatkan Anaknya.
Kemudian ia menjadi Pengikut Sang Buddha.

* * * * *

03 Juli 2010

Kesucian yang Dibeli

"Saya harus mengerti arti syair itu", pikir Kala.
Jadi ia tetap tinggal dan mendengarkan Ajaran Sang Buddha,
akhirnya ia mengerti dan mencapai Tingkat Kesucian.

Ketika Kala melihat kepada Sang Buddha, ia merasa amat malu dan berkata :
"Saya tidak mau uang ini".

Jutawan Anathapindika itu mengucapkan terima kasih kepada Sang Buddha, seraya berkata :
"Yang Mulia, kelakuan Anak saya pada hari ini amat menyenangkan saya".

* * * 

Kemudian Sang Buddha mengucapkan syair :

"Ada yang lebih baik dari pada kekuasaan mutlak atas Bumi, 
dari pada pergi ke Surga atau daripada memerintah seluruh dunia, 
yakni hasil kemuliaan dari seorang Suci yang telah memenangkan arus (Sotapattiphala)".

( Dhammapada, Loka Vagga no. 12 )

* * * * * 

Anak-Anak Mengunjungi Sang Buddha

Tetapi ada beberapa Orang tua yang pandai dan mengerti Ajaran Sang Buddha.
Ketika menyadari kekeliruannya,
mereka mendatangi Orang tua yang keliru itu dan menjelaskan Ajaran Sang Buddha.
Akhirnya mereka semua mengerti akan Dhamma yang Sang Buddha ajarkan, mereka berkata :
"Kami akan menyuruh Anak-anak kami melayani Sang Guru Agung kita".

* * * 

Sang Buddha mengucapkan syair :

"Mereka yang mengetahui apa yang tercela sebagai tercela, 
dan apa yang tidak tercela sebagai tidak tercela, 
maka Orang yang menganut Pandangan Benar seperti itu akan masuk ke Alam Bahagia"

( Dhammapada, Niraya Vagga no. 14 )

* * * * *