Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Cerita - Sang Buddha Pelindungku II. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita - Sang Buddha Pelindungku II. Tampilkan semua postingan

23 Desember 2010

Anak Muda dan Hantu

Pemahat kayu ini adalah Pengikut setia Sang Buddha, demikian pula Anaknya.
Tetapi Teman Anak muda itu adalah Anak seorang Pertapa.

Sejak saat itu ia mulai membiasakan dirinya untuk melatih meditasi terhadap Sang Buddha.

* * * 
Sang Buddha menjawab :

"Yang Mulia Raja, 
meditasi kepada Buddha bukan hanya berarti perlindungan saja.

Tetapi siapa saja yang melatih meditasi dengan disiplin,
melatih salah satu diantara Enam Bentuk Meditasi,
ia tidak lagi memerlukan perlindungan lainnya
atau mencari pertahanan dari serangan-serangan luar."

* * * * *

Engkau akan segera meninggal

Ia berbaring di tempat tidurnya. Tidak lama kemudian, ia meninggal dunia.
Tetapi karena Perbuatan Baik yang amat besar telah dilakukannya di akhir kehidupannya,
ia terlahir kembali di Alam Surga Tusita.

* * * 

Kemudian Sang Buddha mengucapkan syair :

"Berbuatlah untuk dirimu sendiri, dan apa yang dapat dilakukan pada hari ini.

Siapa yang mengetahui bahwa pada esok hari kematian akan datang ?
Kita tidak dapat melawan kematian dan bukanlah Pemilik kematian."


"Kebahagiaan 
adalah Orang-orang yang hidup bersemangat pada siang dan malam hari,
tidak khawatir meskipun ia hidup hanya satu malam.
Ia amat tenang dan bijaksana."

* * * * *

19 November 2010

Sang Buddha, Gajah dan Monyet

Tetapi karena Perbuatan Baik yang telah dilakukannya, dengan melayani Sang Buddha,
ia terlahir kembali di Alam Surga, bernama Dewa Parileyyaka.

* * * 

Setelah berkata demikian, Sang Buddha lalu mengucapkan tiga syair :

"Apabila dalam pengembaraanmu engkau dapat menemukan 
seorang Sahabat  yang berkelakuan baik, pandai dan bijaksana,
maka hendaknya engkau berjalan bersamanya 
dengan senang hati dan penuh kesadaran 
untuk mengatasi semua bahaya."
( Dhammapada, Naga Vagga no. 9 )

* * * * *

Murid Pemberontak

Ketika itu Yang Mulia Kassapa sedang berdiam di Gua Pipphali.
Ia mempunyai dua orang Murid yang selalu melayaninya.

Salah seorang Muridnya amat setia dan selalu melaksanakan tugasnya dengan baik.
Tetapi Murid yang satunya, selalu lalai dan malas dalam melaksanakan tugas-tugasnya.

Ia selalu mengambil keuntungan dari pekerjaan yang dilakukan oleh Temannya,
dengan mengakui pekerjaan Temannya sebagai pekerjaannya sendiri.

* * * * *

14 November 2010

Sesudah Badai Berlalu ..... Tenang

"Tunggulah sampai esok hari", karena ia ingin membuat kue-kue untuk Menantunya.
Tetapi pada hari ketiga Kana tetap tidak bisa pulang karena kue yang dimasak Ibunya habis lagi

* * * 

Sang Buddha kembali bertanya kepada Kana :

"Kana, saya mengetahui Murid-muridKu mendatangi rumahmu
ketika mereka ber-pindapatta dan Ibumu memberikan kue-kue kepada mereka,
apakah Murid-muridKu melakukan kesalahan ?"

"Mereka tidak bersalah Yang Mulia, saya sendiri yang bersalah."


Sang Buddha lalu datang dan mengucapkan syair :

"Bagaikan danau yang dalam, airnya jernih dan tenang, 
demikian pula bathin Para Bijaksana menjadi tenteram karena mendengarkan Dhamma."

( Dhammapada, Pandita Vagga no. 7 )

* * * * *

Seorang Pertapa bernama Pathika

Demikianlah, ketika malam hari tiba, Ibu itu lalu memanggil Anak laki-lakinya, ia berkata :
"Anakku, pergilah ke vihara Jetavana undanglah Sang Buddha untuk datang ke rumah kita
dan menerima persembahan makanan, besok pagi."

* * *

Ibu itu amatlah gembira dan bahagia, ia bertepuk tangan dan berkata :
"Oh, Yang Mulia, amat indah, amat indah kata-kata Yang Mulia ucapkan."

Sang Buddha lalu mengucapkan syair :

"Jangan memperhatikan kesalahan dan hal-hal 
yang telah dikerjakan atau belum dikerjakan oleh orang lain.
Tetapi perhatikanlah 
apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh diri sendiri."

( Dhammapada, Puppha Vagga no. 7 )

* * * * *

Pertengkaran Antar Suku

Cerita ini dimulai ketika Suku Koliya dan Suku Sakya memperebutkan air Sungai Rohini,
yang digunakan untuk mengairi ladang-ladang mereka.

Sang Buddha mengucapkan syair-syair ini :

"Sungguh bahagia 
jika kita hidup tanpa membenci di antara orang-orang yang membenci,
di antara orang-orang yang membenci kita hidup tanpa membenci."

( Dhammapada, Sukha Vagga no. 1 )
* * * 

Akhirnya kedua Sanak Keluarga itu berdamai, membagi air Sungai Rohini itu dengan adil,
untuk mengairi ladang kedua belah pihak.

* * * * *