Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Cerita - Sang Buddha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita - Sang Buddha. Tampilkan semua postingan

12 Oktober 2012

Kisah Bilalapadaka - Perbuatan Baik Yang Kecil Menjadi Besar

Lalu Sang Buddha berkata,


"Muridku, kamu seharusnya tidak meremehkan Perbuatan Baik walau sekecil apapun; 
Perbuatan Baik yang kecil akan menjadi besar, 
jika kamu melakukannya sebagai kebiasaan."


Kemudian Sang Buddha membabarkan syair berikut:

Janganlah meremehkan Kebajikan walaupun kecil dengan berpikir :


"Perbuatan Bajik tidak akan membawa akibat."

Bagaikan sebuah tempayan akan terisi penuh oleh air 

yang dijatuhkan setetes demi setetes, 

demikian pula Orang Bijaksana sedikit demi sedikit 

memenuhi dirinya dengan Kebajikan.


( Dhammapada 9 : 122 )


* * * * * 

Bagaimana Kebencian Berakhir ?

Pada akhir wejangannya Sang Buddha membabarkan syair 3 dan 4 berikut ini :

“Ia menghina saya, Ia memukul saya, Ia mengalahkan saya, Ia merampas milik saya.” 
Selama seseorang masih menyimpan pikiran-pikiran seperti itu, 
maka Kebencian tak akan pernah berakhir.

“Ia menghina saya, Ia memukul saya, Ia mengalahkan saya, Ia merampas milik saya.” 
Jika seseorang sudah tidak lagi menyimpan pikiran-pikiran seperti itu
maka Kebencian akan berakhir.

* * * 

03 Juni 2012

Kelahirannya Sebagai Raja Shibi

Beliau mendengarkan permintaan mereka seolah mendengar sebuah kabar gembira.
Kebahagiaan Para Pengemis bahkan melampaui kebahagiaan Sang Raja sendiri,
mereka menyebarluaskan kabar gembira kemurahan hati Sang Raja ke seluruh negeri di sekelilingnya.

Mengingat bahwa kalian telah melihat mataku, mata yang memiliki kekuatan Dewa,
yang diperoleh dari Kebajikan beramal dana.

* * *

Harta sesungguhnya tak berarti begitu saja, 

hingga ia menjadi Kebajikan seseorang;

Ia dapat diberikan bagi Kebajikan yang lain.
Hanya dengan sikap yang demikianlah Ia akan menjadi harta karun;

* * * * *

Kisah tentang Unmadayanti - Unmadayanti Jataka

Dan karena Aku senantiasa memikirkan Kebajikan Rakyatku,
Aku harus terus mencintai Jalan Kebajikan, sejalan dengan ketenaranku.
Sebagaimana lembu yang mengikuti Pemimpin kawanan ke mana pun,
benar atau salah, demikianlah agar Rakyat meniru Pemimpinnya tanpa merasa terpaksa.

* * *

Orang yang baik senantiasa merasa enggan untuk mengikuti jalan hina. 
Bahkan pada saat sakit dengan penderitaan berat, 
keteguhan mendorongnya untuk mempertahankan kegigihannya.

* * * * *

26 April 2012

Kisah Maitrakanyaka

Kisah Maitrakanyaka di Candi Borobudur

Ada di bingkai relief ke-106 sampai ke-112 dari Pintu Timur Candi.

Kisah ini bercerita mengenai perantauan Maitrakanyaka mengejar ambisi pribadinya,

tanpa memikirkan perasaan Ibu-nya.
Akibatnya Ia menemui nasib malang dan mendapatkan pelajaran berharga
bahwa seorang Anak harus berbakti kepada Orang tuanya
melebihi pencapaian duniawi apa pun.

Maitrakanyaka menjerit dan menyesali perbuatannya terhadap Ibunya.
Namun, di lubuk hatinya yang terdalam ia masih menyimpan cinta kasih.
Ia berkata,
"Ananda rela mengemban roda ini selama-lamanya.  
Semoga tidak ada lagi Anak yang akan melakukan perbuatan buruk yang sama denganku !"


* * * * *

16 Maret 2012

Sang Buddha Tersenyum dan Memaafkan

Sang Buddha menjawab,

“Sang Tahtagata, yang mencapai penerangan sempurna,

penuh belas kasih terhadap semua Makhluk.

Ia tidak melakukan kesalahan, tidak tersesat, tidak jatuh dalam kebingungan.

Ia Sang Bijaksana, selalu waspada, penuh perhatian.”

Tidak akan ada kebencian dalam hati seorang Buddha.


Sebaliknya, Sang Buddha yang penuh dengan cinta kasih berkata,


“Jika seseorang tidak memaafkan kepada mereka yang mengakui kesalahan,

marah dalam hati, cenderung membenci,

maka Ia dengan kuat memendam permusuhan.

Dalam permusuhan itu, Aku tidak bergembira, karena itu,

Aku memaafkan kalian.”

* * * * * 

03 Maret 2012

Inspirasi Kemurahan Hati, Pengendalian Diri dan Kesabaran

Untuk lebih menjiwai Ajaran Buddha, pelajari teladan kehidupannya di masa lampau.
Membaca kisah-kisah nya tentang
* Kemurahan hati ( dana paramita )
* Disiplin pengendalian diri ( sila paramita )
* Kesabaran ( ksanti paramita )

Slokha-slokha Kehidupan Masa Lampau Sang Buddha

30 Juli 2011

Sujata Jataka

"Sujata, terdapat tujuh jenis Istri yang bisa didapatkan oleh seorang Laki-laki.
Jenis ke berapa-kah dirimu ?"

Dia menjawab,

"Saya adalah si Pelayan, Bhante !"
kemudian memberikan hormat kepada Sang Buddha, dan meminta maaf kepadanya.

* * * * * 

06 Mei 2011

Asitabhu Jataka 234

"Sekarang nafsu telah tiada," dan seterusnya.—

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana, tentang seorang gadis.

Dikatakan bahwasanya di Savatthi,
di dalam sebuah Keluarga yang menopang kehidupan
dua Orang Siswa Utama ( Aggasavaka ) Sang Buddha,
terdapat seorang gadis yang berparas elok dan bersinar cemerlang.
Ketika dewasa, dia dinikahkan kepada sebuah Keluarga yang sama baiknya dengan Keluarganya sendiri.

* * *

Setelah uraian ini selesai, Sang Guru mempertautkan kisah kelahiran mereka :

"Kedua orang ini adalah Pangeran dan Istrinya,
dan Aku sendiri adalah Sang Petapa."


* * * * *

Kalyana Dhamma Jataka 171

"Oh Paduka, ketika orang mengelu-elukan kita," dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan Sang Guru di Jetavana, tentang seorang Ibu Mertua yang tuli.

Dikatakan bahwa ada seorang Tuan tanah di Savatthi, seorang yang berkeyakinan,
yang percaya, yang telah berlindung di bawah Tiga Permata
dan seorang yang menjalankan lima sila.

* * *

Sang Guru, setelah menyampaikan uraian ini, mempertautkan kisah kelahiran mereka:

"Pada masa itu,
Ananda adalah Raja, dan Aku sendiri adalah pedagang kaya (di) Benares"


* * * * *

Succaja Jataka 320

Setelah mendengar Ratu mengucapkan kata-kata pujian terhadap Raja,
Bodhisatta mempermaklumkan Kebajikan Ratu dan mengulangi bait keempat berikut :

    Terkenal sebagai Istri yang tiada taranya,
    berbagi kesenangan dan kesusahan hidup,
    selalu ( bersikap ) sama pada kedua jenis keadaan itu,
    memang cocok bersanding dengan Raja.


Bodhisatta dengan kata-kata ini melantunkan pujian terhadap Ratu,
"Wanita ini, Yang Mulia,
di masa Anda susah, tetap tinggal bersamamu dan berbagi kesusahanmu, di dalam hutan.
Anda harus memberikan Kehormatan padanya."


Raja juga menganugerahkan kekuasaan yang besar kepada Bodhisatta.
Ia berkata,
"Dikarenakan dirimulah, saya teringat kembali akan Kebajikan Ratu."


* * * * * 

05 Mei 2011

Godha Jataka 333

Sang Guru berkata,

"Baiklah, andaikan ia memang bersikap demikian kepadamu, janganlah bersedih. 
Ketika ia ingat akan Kebajikanmu, 
ia akan memberikan kekuasaan tertinggi kepadamu."


[109] Di saat Bodhisatta berkata demikian, Raja teringat kembali akan kebaikan Ratunya,
dan berkata,
"Istriku, selama ini tidak kulihat Kebajikanmu, 
tetapi melalui kata-kata Orang bijak ini, saya telah melihatnya kembali. 
Maafkanlah perbuatan burukku. 
Seluruh Kerajaanku ini kuberikan kepadamu sendiri."

* * * * *

Siri Jataka 284

Kemudian Beliau membabarkan khotbah Dhamma berikut 264 :

    Inilah timbunan yang dapat memuaskan
    segala keinginan Dewa atau Manusia ;
    Tak peduli apa pun yang ingin mereka miliki :
    Semua itu diperoleh dengan buah dari Jasa Kebajikan.


    Demikian besarnya buah yang dihasilkan,
    singkatnya, demikian agungnya Jasa Kebajikan ini :

    Karena itulah mereka yang kukuh ( dalam Dhamma )
    serta Para Bijak memuji penimbunan Jasa-jasa Kebajikan.

* * * * *


Khantivadi Jataka 35

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berdiam di Jetavana,
tentang seorang Bhikkhu yang pemarah.

"Ajaran tentang kesabaran, Paduka," jawabnya

Pada masa itu, 
Devadatta adalah Kalābu (Kalabu), Raja Kasi,
Sāriputta adalah Panglima
dan saya sendiri adalah Sang Petapa, Si Pengajar Kesabaran."



* * * * *

Mamsa Jataka 315

"Bagi seseorang yang meminta," dan seterusnya.

Sang Guru berkata,
"Bukan hanya kali ini,
Para Bhikkhu, Sariputta mampu mendapatkan makanan sendirian, tetapi juga di masa lampau,


Orang Bijak yang memiliki suara nan lembut
dan tahu bagaimana cara berbicara dengan menyenangkan mendapatkan hal yang sama."

* * * * *

13 April 2011

Bhojajaniya Jataka

"Meskipun dalam keadaan lemah,"dan seterusnya.

Sang Guru berkata,
"Bhikkhu, di kehidupan yang lampau,

Ia yang bijaksana dan tekun dalam melakukan Kebajikan,
meskipun berada di tengah kepungan musuh dan dalam keadaan terluka, tetap tidak menyerah."

* * *

Mereka membawa Bodhisatta ke gerbang Kerajaan, Raja sendiri keluar untuk melihatnya.
Makhluk yang agung itu berkata kepada Raja,

Lakukanlah Perbuatan Baik,
jagalah sila dan pimpinlah Kerajaanmu dengan penuh kebaikan dan keadilan."

* * * * * 

Ajanna Jataka

"Tidak masalah kapan maupun dimana," dan seterusnya.

Sang Guru berkata,
"Bhikkhu, di kehidupan yang lampau,

Ia yang bijaksana dan penuh Kebaikan tetap tekun walaupun sedang terluka."

* * * * * 

Samkhadhamana Jataka

"Jangan bertindak keterlaluan,"dan seterusnya.


Seperti kisah sebelumnya, Bodhisatta mengulangi syair berikut ini :

    Jangan bertindak keterlaluan,
    belajarlah untuk tidak melakukan sesuatu secara berlebihan ;

    Karena meniup terompet secara berlebihan
    menyebabkan kehilangan atas apa yang (tadi) diperoleh dari meniup terompet.



Setelah uraian-Nya berakhir, Sang Guru mempertautkan dan menjelaskan
tentang kelahiran tersebut dengan berkata,

"Bhikkhu yang selalu bertindak sesuka hati ini adalah Ayah di masa itu,
dan Saya sendiri adalah Anak Lelaki tersebut."


* * * * *


Nakula Jataka 165

"Wahai Makhluk, musuhmu sejak dari telur," dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru sewaktu berdiam di Jetavana
tentang dua Orang yang bertengkar.

Cerita pembukanya telah dikemukakan di dalam Uraga-Jātaka 39.
Di sini, seperti sebelumnya, kata Sang Guru,

"Ini bukan untuk pertama kalinya, Para Bhikkhu,
kedua Bangsawan ini telah didamaikan oleh diri-Ku;
Sebelumnya, Aku juga mendamaikan mereka."

Kemudian Beliau menceritakan sebuah kisah masa lampau.

* * * * *

Kosiya Jataka 212

[463] "Engkau bisa menderita atau makan," dan seterusnya.

Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana,
mengenai seorang Wanita di Sawatthi.

Dikatakan ia adalah seorang Istri yang jahat dari seorang Brahmana yang baik hati dan suci,
merupakan seorang Umat Awam.
Waktu malamnya dihabiskan untuk berkeluyuran;
sementara siang harinya ia tidak pernah bekerja,
namun berpura-pura sakit dan berbaring sambil mengomel.