Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Dhamma - Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dhamma - Keluarga. Tampilkan semua postingan

17 Juni 2013

Ladang Rejeki yang Paling Subur untuk Berdana



Di dalam Sutra Ta Fang Pien Fo Pau En Cing, 

disabdakan:


Keberadaan Ayah, Ibu, dan Perkumpulan Sangha 


adalah dua jenis ladang rejeki 


untuk mesti dilakukan oleh semua makhluk,



semua jasa pahala terlahir di alam Dewa dan manusia, 


atau memperoleh buah kesucian dan pembebasan Nirvana


semua disebabkan 


melaksanakan 2 ( dua ) kebajikan tersebut di atas.





Perkumpulan Sangha

adalah ladang rejeki yang paling subur 

untuk keluar dari Triloka Dhatu 

( 3 Alam Tumimbal lahir 

yaitu: Karma-DhatuRupa-Dhatu, Arupa-Dhatu );
 
 


Sedangkan Ayah dan Ibu


adalah ladang rejeki yang sangat subur 


di dalam Triloka Dhatu.


Tentang Yang Harus Diperlakukan dengan Hati-hati dan dengan Hormat


Di dalam Anguttara Nikaya,
 
Sang Buddha menjelaskan 

dalam istilah upacara korban - 3 ( tiga ) jenis api
 

yang harus diperlakukan dengan hati-hati 


dan dengan hormat  (A. IV, 44).





3 ( tiga ) jenis itu 

adalah ahuneyyaggi, gahapataggi, dakkhineyyaggi.





Sang Buddha menjelaskan bahwa



* Ahuneyyaggi

berarti ayah dan ibu, yang harus dihormati dan dirawat.





* Gahapataggi

berarti istri dan anak-anak-nya, karyawan dan mereka yang tergantung padanya.





* Dakkhineyyaggi

mewakili orang-orang religius yang telah mencapai tingkat Arahat


atau telah masuk ke dalam arus pelatihan 

untuk melenyapkan noda-noda mental.




Ke-3 ( tiga ) nya ini harus dirawat dan dipelihara 

bagaikan menjaga api korban.




24 Maret 2013

Lima Macam Persembahan


Dalam Pattakamma Sutta


Buddha menjelaskan kepada Anathapindika 


tentang 5 ( lima ) macam persembahan, yaitu: 



1. Persembahan kepada sanak saudara yang masih hidup. 

2. Persembahan kepada tamu. 

3. Persembahan kepada sanak saudara yang telah meninggal dunia. 

4. Persembahan kepada Raja (Pemerintah). 

5. Persembahan kepada Dewa. 



13 Maret 2013

Bagaimana seorang Perumah-tangga Mantap Dalam Kebijaksanaan


Dan bagaimana seorang Perumah-tangga mantap dalam kebijaksanaan ? 


Di sini, Byagghapajja,
seorang Perumah-tangga memiliki kebijaksanaan
yang melihat ke dalam muncul dan lenyap-nya fenomena,
yang mulia dan menembus dan menuju pada musnah-nya penderitaan secara total.

Dengan cara ini-lah seorang Perumah-tangga mantap dalam kebijaksanaan.


(Anguttara Nikaya 8.54) - Tentang Persahabatan yang Baik

Bagaimana seorang Perumah-tangga Mantap Dalam Kedermawanan


Dan bagaimana seorang Perumah-tangga mantap dalam kedermawanan ? 




Di sini, Byagghapajja,

seorang Perumah-tangga berdiam di rumah 

dengan pikiran yang bersih dari noda kekikiran,

dia dermawan secara bebas, 


suka menolong,


bergembira dalam berdana,


orang yang senang beramal,


senang berdana dan berbagi.





Dengan cara ini-lah seorang Perumah-tangga mantap dalam kedermawanan.


(Anguttara Nikaya 8.54) - Tentang Persahabatan yang Baik


Bagaimana Seorang Perumah-tangga Mantap Dalam Moralitas


Dan Bagaimana seorang Perumah-tangga mantap dalam moralitas ?  


Di sini, Byagghapajja,
seorang Perumah tangga tidak menghancurkan kehidupan,
tidak mencuri,
tidak  berperilaku seksual yang menyimpang,
tidak berbicara yang tidak benar,
tidak minum anggur, minuman keras dan apa pun lain-nya yang bersifat meracuni yang menjadi landasan kelalaian.

Dengan cara ini-lah seorang Perumah-tangga mantap dalam moralitas.

(Anguttara Nikaya 8.54) - Tentang Persahabatan yang Baik

Bagaimana Seorang Perumah-tangga Mantap Dalam Keyakinan


Dan Bagaimana seorang Perumah-tangga mantap dalam keyakinan ? 


Di sini, Byagghapajja,
seorang Perumah-tangga memiliki keyakinan;
dia meletakkan keyakinan-nya pada pencerahan Sang Tathagata demikian :

Karena itulah Bhagava, Beliau adalah Yang Mahasuci, Yang telah mencapai Penerangan Sempurna,
Sempurna Pengetahuan serta tindak tanduk-Nya,
Sempurna menempuh jalan ke Nibbana, Pengetahuan segenap alam,
Pembimbing manusia yang tiada tara-nya,
Guru para Dewa dan Manusia, Yang sadar, Yang patut dimuliakan.

Dengan cara inilah seorang perumah-tangga mantap dalam keyakinan.

(Anguttara Nikaya 8.54) - Tentang Persahabatan yang Baik


11 Maret 2013

4 Jenis Kebahagiaan Bagi Orang Awam Yang Menjalani Kehidupan Berkeluarga


Suatu ketika Sang Buddha memberitahu Anathapindika, 


saudagar besar,  


salah satu murid awam yang berbakti 


yang membangun Vihara Jetavana untuk-Nya di Savatthi,  


bahwa orang awam yang menjalani kehidupan berkeluarga 


memiliki 4 ( empat ) jenis kebahagiaan.



1. atthi-sukha  

2. bhoga-sukha 

3. anana-sukha 

4. anavajja-sukha


* * * * * * * * * *

* Kebahagiaan pertama 

adalah menikmati keamanan ekonomi atau kekayaan yang cukup

yang diperoleh dengan cara yang adil dan benar

( atthi-sukha );




* Yang ke-dua 

adalah membelanjakan kekayaan itu dengan bebas oleh dirinya sendiri,

keluarganya, teman, saudaranya, dan untuk perbuatan jasa

( bhoga-sukha ); 




* Yang ke-tiga 

adalah terbebas dari hutang ( anana-sukha );




* Kebahagiaan ke-empat 

adalah menjalani hidup tanpa cela dan suci

tanpa melakukan kejahatan dalam pikiran, perkataan atau perbuatan

( anavajja-sukha ).



4 Nilai yang Menunjang Kebahagiaan Orang Awam Selamanya


Kemudian Sang Buddha  


menjelaskan dengan rinci ke-4 (empat) nilai 


yang menunjang kebahagiaan orang awam selamanya :



(1) Saddha  

(2) Sila  

(3) Caga  

(4) Panna 


* * * * * * * * * * *


(1) Saddha :

Ia sebaiknya memiliki keyakinan dan kepercayaan diri 

dalam nilai-nilai moral, spiritual dan intelektual;




(2) Sila :

Ia sebaiknya tidak merusak dan menganiaya kehidupan,

mencuri, berperilaku seksual menyimpang, 

berdusta, dan minum yang memabukkan;




(3) Caga :

Ia sebaiknya mempraktikkan kemurahan hati, kedermawanan,

tidak melekat dan bernafsu akan kekayaannya;




(4) Panna :

Ia sebaiknya mengembangkan kebijaksanaan 

yang menuntun pada penghancuran sempurna penderitaan, 

menuju perwujudan Nibbana.



Definisi Kalyana Mitta dalam Anguttara Nikaya 8.54


"Dan apakah persahabatan yang baik itu ?  


Disini, Byagghapajja, 

di desa atau kota mana pun perumah-tangga itu tinggal,  

dia berteman dengan para perumah-tangga  

dan putra-putra-nya - baik muda atau tua - yang matang dalam moralitas,  

mantap dalam keyakinan, kedermawanan, dan kebijaksanaan; 

dia bercakap-cakap dengan mereka dan berdiskusi dengan mereka.  


Dia berusaha menyamai berkenaan dengan pencapaian mereka 

dalam keyakinan, moralitas, kedermawanan, dan kebijaksanaan.  


Ini-lah yang disebut persahabatan yang baik.”



* * * * * * * * * * * 


08 Maret 2013

5 Cara Seorang Istri Diperlakukan Oleh Suami-nya seperti Arah Barat


Sang Buddha kemudian menerangkan :

3. Isteri dan anak-anak seperti arah Barat.

Dengan lima cara, 

seorang istri harus diperlakukan oleh suami-nya seperti arah Barat :


* Dengan menghormati,
* Dengan bersikap ramah-tamah,
* Dengan kesetiaan,
* Dengan menyerahkan kekuasaan rumah-tangga kepada-nya,
* Dengan memberikan barang-barang perhiasan kepada-nya.

* * * * *

5 Cara Seorang Warga Keluarga Memperlakukan Para Pertapa dan Brahmana seperti Arah Atas


Sang Buddha kemudian menerangkan :

6. Guru-Guru Agama dan Brahmana-Brahmana seperti arah Atas.

Dalam lima cara, 

seorang warga keluarga harus memperlakukan para Pertapa dan Brahmana seperti arah Atas :


* Dengan cinta kasih dalam perbuatan,
* Dengan cinta kasih dalam perkataan,
* Dengan cinta kasih dalam pikiran,
* Membuka pintu rumah bagi mereka (mempersilahkan mereka),
* Menunjang kebutuhan hidup mereka pada waktu-waktu tertentu.

* * * * *

5 Cara Seorang Majikan Memperlakukan Pelayan-pelayan dan Karyawan-karyawan-nya seperti Arah Bawah


Sang Buddha kemudian menerangkan :

5. Pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan seperti arah Bawah.

Dalam lima cara,  

seorang majikan memperlakukan pelayan-pelayan dan karyawan-karyawan-nya 

seperti arah Bawah :


* Dengan memberikan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan mereka,
* Dengan memberikan mereka makanan dan upah,
* Dengan merawat mereka sewaktu mereka sakit,
* Dengan membagi barang-barang kebutuhan hidup-nya,
* Dengan memberikan cuti pada waktu-waktu tertentu.

* * * * *

5 Cara Siswa-siswa Harus Memperlakukan Guru-Guru Mereka seperti Arah Selatan


Sang Buddha kemudian menerangkan :

2. Para Guru seperti arah Selatan.

Ada lima cara, 

siswa-siswa harus memperlakukan Guru-Guru mereka seperti arah Selatan :


* Dengan bangkit (dari tempat duduk untuk memberi hormat),
* Dengan melayani mereka,
* Dengan ber-semangat untuk belajar,
* Dengan memberikan jasa-jasa kepada mereka,
* Dengan memberikan perhatian sewaktu menerima ajaran dari mereka.

* * * * *

5 Cara Seorang Warga Keluarga Memperlakukan Sahabat-Sahabat dan Kawan-Kawan-nya


Sang Buddha kemudian menerangkan :

"AnakKu, Sigala, putera kepala keluarga, dengarkanlah baik-baik keterangan ini :

4. Sahabat-sahabat dan kawan-kawan seperti arah Utara.

Dengan lima cara, 

seorang warga keluarga memperlakukan sahabat-sahabat dan kawan-kawan-nya  

seperti arah Utara dengan :


* Bermurah hati,
* Berlaku ramah,
* Memberikan bantuan,
* Memperlakukan mereka seperti ia memperlakukan diri-nya sendiri,
* Berbuat sebaik ucapan-nya.

* * * * *

07 Maret 2013

Dhamma tentang Empat Macam Sahabat Yang Berhati Tulus


Sang Buddha kemudian menerangkan :

"O putera kepala keluarga,  


terdapat 4 ( empat ) macam sahabat 


yang harus dipandang berhati tulus (suhada), 



yaitu :


1. Sahabat penolong,


2. Sahabat pada waktu senang dan susah,


3. Sahabat yang memberi nasehat yang baik,


4. Sahabat yang ber-simpati.



* * * * *


Atas 4 ( empat ) dasar inilah 

sahabat penolong harus dipandang berhati tulus :



1. Sahabat penolong,


berhati tulus karena :


* Ia menjaga dirimu sewaktu engkau lengah,

* Ia menjaga milikmu sewaktu engkau lengah,

* Ia menjadi pelindung dirimu sewaktu engkau dalam ketakutan,

* Ia memberikan bantuan dua kali daripada apa yang engkau perlukan.





Dhamma tentang Empat Macam Orang Yang Berpura-pura Menjadi Sahabat


Sang Buddha kemudian menerangkan :

"O putera kepala keluarga, 

terdapat empat macam orang yang harus dianggap musuh yang berpura-pura menjadi sahabat, 


yaitu :
1. Orang yang tamak,
2. Orang yang banyak bicara tetapi tidak berbuat suatu apapun,
3. Penjilat,
4. Kawan pemboros.

* * * * *

Dhamma tentang Hal - Hal yang Memboroskan Kekayaan


Sigala, putera kepala keluarga itu bertanya :

"Dan apakah enam saluran yang memboroskan kekayaan itu ?" 


Yaitu :
1. Gemar minum minuman yang memabuk-kan,
2. Berkeliaran di jalan pada saat yang tidak pantas,
3. Mengejar tempat-tempat hiburan,
4. Gemar berjudi,
5. Bergaul dengan teman-teman jahat,
6. Kebiasaan malas.

* * * * *

10 Oktober 2012

8 Kualitas dalam Diri Seorang Wanita yang Akan Membawa Kesejahteraan dan Kebahagiaan


Dalam salah satu khotbah 


yang disampaikan Buddha kepada Visakha,


Beliau berbicara mengenai 8 ( delapan ) kualitas 


dalam diri seorang wanita


yang akan membawanya pada kesejahteraan dan kebahagiaan


di dunia ini dan di kehidupan selanjutnya:




Inilah, Visakha,


* seorang wanita yang mengerjakan pekerjaan-nya dengan baik,


* mengatur para pelayan-nya,


* menaruh rasa hormat pada suami


* dan menjaga kekayaan-nya.




Inilah, Visakha,


* seorang wanita yang memiliki keyakinan (saddha

kepada Buddha, Dhamma dan Sangha;


* sila;


* kedermawanan (caga);


* dan kebijaksanaan (panna).”



08 Oktober 2012

Kualitas yang Diharapkan Pasangan Suami Istri Dalam Pernikahan

Berdasarkan ajaran Buddha, dalam sebuah pernikahan,

sang Suami dapat mengharapkan kualitas-kualitas berikut dari sang Istri:


* Cinta kasih
* Perhatian
* Kewajiban keluarga
* Kesetiaan
* Mengasuh anak
* Berhemat
* Menyediakan makanan
* Untuk menenangkan sang Suami ketika ia marah
* Ramah dalam segala hal