Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Dhamma - Tipitaka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dhamma - Tipitaka. Tampilkan semua postingan

05 Mei 2011

Tipitaka 18 - Kisah Sumanadevi

Dekat Savatthi, di rumah Anathapindika dan rumah Visakha,
dua ribu bhikkhu memperoleh pelayanan makanan setiap hari.

Di rumah Visakha, dana makanan diatur pemberiannya oleh cucu perempuannya.
Di rumah Anathapindika, pengaturan dana makanan dilakukan,
pertama oleh anak perempuan Anathapindika tertua,
kemudian oleh anak perempuan kedua,
dan akhirnya oleh Sumanadevi, anak perempuan yang termuda. Kedua saudara perempuannya yang lebih tua
mencapai tingkat kesucian sotapati dengan mendengarkan Dhamma,
setelah melayani dana makan para bhikkhu.
Sumanadevi melakukan lebih baik dan mencapai tingkat kesucian sakadagami.

04 Mei 2011

Tipitaka 95 - Kisah Sariputta Thera

Pada suatu akhir masa vassa,
Sariputta Thera berangkat untuk suatu perjalanan bersama dengan beberapa pengikutnya.
Seorang bhikkhu muda pengikutnya, yang memiliki dendam terhadap Sariputta Thera,
mendekat kepada Sang Buddha dan menfitnah dengan mengatakan
bahwa Sariputta Thera telah mencaci dan memukulnya.

Sang Buddha memanggil Sariputta Thera dan menanyakan:
apakah hal itu benar?

Tipitaka 98 - Kisah Samanera Revata

Revata adalah saudara laki-laki termuda dari murid utama Sariputta.
Ia satu-satunya saudara Sariputta yang tidak meninggalkan rumah tangga
untuk menempuh kehidupan tanpa rumah.
Ayahnya sangat menginginkan agar ia menikah.
Revata baru berumur tujuh tahun
ketika ayahnya mempersiapkan sebuah pernikahan baginya dengan seorang gadis kecil.

03 Mei 2011

Tipitaka 80 - Kisah Samanera Pandita

Pandita adalah seorang putra orang kaya di Savatthi.
Ia menjadi seorang samanera pada saat berusia tujuh tahun.
Pada hari ke delapan setelah menjadi samanera,
ia pergi mengikuti Sariputta Thera berpindapatta,
ia melihat beberapa petani mengairi ladangnya dan bertanya kepada Y.A. Sariputta Thera
"Dapatkah air yang tanpa kesadaran dibimbing ke tempat yang seseorang kehendaki?"

Sang Thera menjawab,

"Ya, air dapat dibimbing kemanapun yang dikehendaki seseorang."

Tipitaka 326 - Kisah Samanera Sanu

Suatu hari, Samanera Sanu didesak oleh para bhikkhu yang lebih tua
untuk naik ke atas mimbar dan mengulang bagian-bagian dari Dhamma
yang telah dibabarkan oleh Sang Buddha.

Ketika ia telah menyelesaikan pengulangannya,
ia dengan sungguh-sungguh menyebut,

"Semoga jasa-jasa yang telah saya peroleh hari ini
dengan mengulang syair-syair mulia ini,
dinikmati oleh ibu dan ayah saya".

13 April 2011

Tipitaka 414 - Kisah Sivali Thera

Putri Suppavasa, dari Kundakoliya sedang hamil selama tujuh tahun
dan kemudian selama tujuh hari ia mengalami kesakitan pada saat melahirkan anaknya.
Ia terus merenungkan sifat-sifat khusus Sang Buddha, Dhamma dan Sangha.
Ia menyuruh suaminya pergi menemui Sang Buddha
untuk memberikan penghormatan dengan membungkukkan badan demi kepentingannya
dan untuk memberitahu Beliau tentang keadaannya.

Ketika diberitahu mengenai keadaan putri tersebut, Sang Buddha berkata,

08 April 2011

Tipitaka 110 - Kisah Samanera Samkicca

Pada suatu ketika, tiga puluh bhikkhu setelah menerima pelajaran objek meditasi
yang diberikan Sang Buddha, pergi menuju sebuah desa besar,
yang jauhnya 120 yojana dari Savatthi.

Pada waktu itu, lima ratus orang perampok tinggal di tengah-tengah hutan
dan mereka berkeinginan untuk membuat persembahan dari daging dan darah manusia
untuk makhluk halus penjaga hutan.

Kemudian mereka datang ke vihara desa dan meminta salah seorang bhikkhu
diserahkan kepada mereka untuk dikorbankan kepada makhluk halus penjaga hutan.
Semua bhikkhu, dari yang tertua sampai yang termuda,
bersedia secara sukarela untuk pergi.
Di antara para bhikkhu tersebut,
terdapat juga seorang samanera muda yang bernama Samkicca.

09 Februari 2011

Tipitaka 316-317 - Kisah Para Petapa Nigantha

Suatu hari, beberapa petapa Nigantha pergi untuk mengumpulkan dana makanan
dengan mangkuk mereka yang ditutupi dengan sepotong kain.

Beberapa bhikkhu melihat mereka dan komentar,
"Para petapa Nigantha ini, yang menutupi tubuh bagian depan lebih terhormat
dibandingkan dengan para petapa Acelaka yang pergi tanpa mengenakan kain penutup apapun."

31 Desember 2010

Tipitaka 311 - Kisah Bhikkhu yang Keras Kepala

Suatu ketika ada seorang bhikkhu yang merasa sangat menyesal
karena telah memotong rumput tanpa sengaja.
Ia mengakui hal tersebut di hadapan bhikkhu lain.
Bhikkhu yang mendapat pengakuan kesalahan tersebut
mempunyai sifat sembrono dan keras kepala,
ia memandang remeh terhadap kesalahan kecil.

Maka, ia menjawab kepada bhikkhu pertama,

“Memotong rumput adalah pelanggaran yang sangat kecil.
Jika kamu menyatakan dan mengakui kesalahan kepada bhikkhu lain,
secara otomatis kamu bebas dari kesalahan.
Tak ada yang perlu dirisaukan.”

Tipitaka 307 - Kisah Mereka yang Menderita Karena Perbuatan Jahat Mereka Sendiri

Suatu saat Yang Ariya Maha Moggallana sedang menuruni bukit Gijjhakuta bersama Lakkhana Thera.
Ia melihat beberapa makhluk setan.
Ketika mereka tiba di vihara,
Maha Moggallana Thera berkata pada Lakkhana Thera di hadapan Sang Buddha,
bahwa ia telah melihat sesosok makhluk setan (peta) yang hanya berupa kerangka tulang.
Kemudian ia menambahkan bahwa
ia juga telah melihat lima bhikkhu dengan tubuh terbakar dalam kobaran nyala api.

Mendengar pernyataan tentang para bhikkhu yang terbakar itu,
Sang Buddha berkata,

“Pada masa hidup Buddha Kassapa,
para bhikkhu tersebut telah melakukan banyak perbuatan jahat.
Karena perbuatan jahat itulah maka mereka telah menderita di alam neraka (niraya)
dan sekarang mereka sedang mengalami sisa penderitaannya hidup sebagai makhluk setan.”

19 November 2010

Tipitaka 303 - Kisah Citta, Si Perumah Tangga

Citta, setelah mendengarkan Dhamma yang diuraikan oleh Yang Ariya Sariputta,
mencapai tingkat kesucian anagami.

Suatu hari, Citta mengisi penuh lima ratus keretanya dengan makanan
dan persembahan lainnya untuk diberikan kepada Sang Buddha serta murid-murid Beliau.

Ia berangkat menuju Savatthi bersama rombongan pengikutnya yang berjumlah tiga ribu orang.
Mereka berjalan menempuh jarak satu yojana setiap hari,
dan tiba di Savatthi pada akhir bulan.

14 November 2010

Tipitaka 302 - Kisah Seorang Bhikkhu dari Negeri Kaum Vajji

Pada malam bulan purnama di bulan Kattika,
penduduk Vesali merayakan festival perbintangan (nakkhatta) secara besar-besaran.
Seluruh kota bersinar, dan ada banyak hiburan, dengan nyanyian, tarian, dll.

Ketika itu ada seorang bhikkhu yang sedang melihat ke arah kota, sambil berdiri sendiri di vihara.
Bhikkhu itu merasa kesepian dan tidak puas dengan keadaannya. perlahan,
ia bergumam pada dirinya sendiri,
"Tidak ada seorangpun yang keadaannya lebih buruk dariku".

Saat itu juga makhluk halus penjaga hutan menghampirinya dan berkata,
"Makhluk-makhluk di alam neraka (niraya) iri hati terhadap keadaan makhluk-makhluk di alam dewa;
demikian pula orang-orang iri hati dengan keadaan mereka yang hidup sendiri di dalam hutan."

23 Oktober 2010

Tipitaka 183 - Kisah Pertanyaan Yang Diajukan Oleh Ananda Thera

Pada suatu saat, Ananda Thera bertanya kepada Sang Buddha
apakah pelajaran-pelajaran dasar yang diberikan kepada para bhikkhu
oleh para Buddha terdahulu adalah sama seperti pelajaran Sang Buddha sendiri sekarang.

Kepadanya Sang Buddha menjawab bahwa pelajaran-pelajaran yang dibabarkan
oleh seluruh Buddha adalah seperti yang diberikan pada syair 183, 184, dan 185 berikut ini:

Tidak melakukan segala bentuk kejahatan,
senantiasa mengembangkan kebajikan
dan membersihkan batin:
inilah ajaran para Buddha.

Tipitaka - Kisah Magha

Suatu waktu, seorang Pangeran Licchavi, bernama Mahali,
datang untuk mendengarkan khotbah Dhamma yang disampaikan oleh Sang Buddha.

Khotbah yang dibabarkan adalah Sakkapanha Suttanta.

Sang Buddha menceritakan tentang Sakka yang selalu bersemangat.
Mahali kemudian berpikir bahwa Sang Buddha
pasti pernah berjumpa dengan Sakka secara langsung.
Untuk meyakinkan hal tersebut, dia bertanya kepada Sang Buddha.

Tipitaka 46 - Bhikkhu Yang Memandang Tubuh Sebagai Suatu Bayangan

Bhikkhu Yang Memandang Tubuh Sebagai Suatu Bayangan
Pada suatu kesempatan, setelah belajar bermeditasi dari Sang Buddha,
seorang bhikkhu segera pergi ke hutan.

Meskipun ia telah berusaha dengan keras,
dia hanya mendapat kemajuan yang kecil dalam latihan meditasinya;
sehingga ia memutuskan untuk kembali menemui Sang Buddha untuk belajar lebih jauh.

Dalam perjalanan pulang dia melihat sebuah bayangan,
dimana hanya merupakan penampakan semu dari air.
Segera ia menyadari bahwa tubuh ini juga semu seperti bayangan.

Kisah Cakkhupala Thera

Suatu hari, Cakkhupala Thera berkunjung ke Vihara Jetavana
untuk melakukan penghormatan kepada Sang Buddha.

Malamnya, saat melakukan meditasi jalan kaki,
sang thera tanpa sengaja menginjak banyak serangga sehingga mati.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali serombongan bhikkhu
yang mendengar kedatangan sang thera bermaksud mengunjunginya.

Di tengah jalan,
di dekat tempat sang thera menginap mereka melihat banyak serangga yang mati.

Tipitaka 35 - Kisah Seorang Bhikkhu Tertentu

Suatu ketika, enam puluh bhikkhu,
setelah mendapatkan cara bermeditasi dari Sang Buddha,
pergi ke desa Matika, di kaki sebuah gunung.

Di sana, Matikamata, ibu dari kepala desa,
memberikan dana makanan kepada para bhikkhu;
Matikamata juga mendirikan sebuah vihara
untuk para bhikkhu bertempat tinggal selama musim hujan.

Suatu hari Matikamata bertanya kepada para bhikkhu
perihal cara-cara bermeditasi.

16 Oktober 2010

Tipitaka 299 - Kisah Anak Laki-laki Penebang Kayu

Suatu ketika di Rajagaha,
seorang penebang kayu pergi ke dalam hutan
dengan anak laki-lakinya untuk mencari kayu.

Waktu kembali ke rumah pada sore hari,
mereka berhenti dekat suatu pemakaman untuk makan.

Mereka juga melepaskan kuk dari dua lembu jantannya
sehingga lembu-lembu bisa merumput di sekitar tempat itu.
Tetapi ke dua lembu jantan pergi tanpa mereka sadari.

Tipitaka 19 - Kisah Dua Sahabat

Suatu ketika dua orang sahabat
yang berasal dari keluarga terpelajar dari Savatthi,
bersama-sama menjadi bhikkhu.

Yang seorang mempelajari Dhamma yang diajarkan oleh Buddha,
dan sangat piawai berkhotbah.
Dia mengajar lima ratus bhikkhu sebagai murid.
Bhikkhu lainnya berusaha keras dan tekun bermeditasi,
sehingga ia berhasil mencapai tingkat kesucian arahat.

17 September 2010

Tipitaka 295 - Kisah Bhaddiya Thera Si Orang Pendek

Suatu ketika beberapa bhikkhu datang berkunjung dan memberi hormat kepada Sang Buddha di Vihara Jetavana. Ketika mereka bersama Sang Buddha, Lakundaka Bhaddiya kebetulan lewat tidak jauh dari mereka.

Sang Buddha meminta mereka untuk memperhatikan Thera yang pendek itu dan berkata kepada mereka, "Para bhikkhu, lihatlah kepada Thera itu. Ia telah membunuh kedua ayah dan ibunya, dan setelah membunuh orang tuanya ia pergi tanpa penderitaan lagi."