Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label Cerita - Sang Buddha Pelindungku III. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita - Sang Buddha Pelindungku III. Tampilkan semua postingan

14 November 2010

Seorang Kakek dalam Keranjang

Anak itu lalu bertanya : "Ayah, mau dibawa kemana Kakekku ini ?"
"Anakku, saya akan membawanya pergi berziarah."

"Baiklah Ayah,
tetapi jangan lupa ya membawa pulang kembali keranjang besar itu,
karena kalau nanti Ayah sudah setua kakek, saya akan membawa Ayah berziarah juga."

* * * 

Dimana perhatian utama adalah
ketidak-puasan seorang Anak terhadap Orangtuanya dan hal ini diperbaiki oleh Cucunya.

Pesan moral yang terkandung dalam cerita ini adalah
apa yang kita lakukan terhadap Ayah, akan terjadi pula pada diri kita sendiri,
yang akan dilakukan oleh Anak kita.

* * * * *

Apakah Seorang Ibu Pernah Menakar Air Susunya ?

Ada satu cerita berasal dari sebuah puisi yang amat terkenal di Srilanka.
Puisi yang asli terdiri dari empat bait, yang dapat mengubah seseorang menjadi penuh belas kasih.

Diceritakan, Ibu tua itu lalu mengucapkan syair ketika ia menerima gandum itu,

"Saya datang ke depan pintu rumah Anakku karena saya amat lapar dan hampir mati 
Tetapi saya hanya memperoleh dua liter gandum 
Saya ragu-ragu, apakah saya harus menerimanya atau tidak

Oh Anakku sayang
apakah saya pernah menakar air susuku ketika menyusuimu ?"

* * *

Cerita ini menekankan tentang Kewajiban seorang Anak
untuk merawat Ayah dan Ibunya yang sudah tua,
seperti Ayah dan Ibu merawat Anaknya dengan penuh kasih yang tanpa batas ketika mereka masih kecil.

* * * * * 

09 Oktober 2010

Musuh yang Belum Lahir

Ketika Anak itu lahir, Raja memberi nama Ajatasattu yang artinya :
musuh yang belum lahir.

Raja Ajatasattu yang mendengar cerita dari Ibunya,
bagaimana Ayahnya amat menyayanginya,
amat menyesal dengan kekejaman yang telah dilakukannya
terhadap Ayahnya yang amat menyayanginya.

* * *

Kelahiran seorang Anak seringkali membuat 
orang menyadari akan cinta kasih Orangtua terhadap dirinya.

* * * * * 

Lelaki Tua dan Tongkat

"Baiklah Saudara, pelajarilah syair ini.
Apabila Orang-orang sedang berkumpul bersama di ruangan besar dan
Anak-anakmu ada di antara kerumunan orang-orang itu, katakanlah di depan mereka syair ini :

Kalau seekor kuda sudah menjadi tua
Pemiliknya akan berhenti memberinya makan
Hal yang sama juga terjadi pada diri saya
Saya harus mengemis makanan dari rumah ke rumah orang lain
Tongkat saya lebih berguna daripada anak saya

* * * 

Anak-anak laki-laki tua itu dengan ketakutan segera berlutut di hadapan Ayah mereka,
memohon ampun kepadanya supaya mereka tidak dihukum mati, dengan berkata :

"Ayah ampunilah segala kesalahan kami. Selamatkanlah jiwa kami."

* * * * * 

Anak yang Membunuh Orang Tuanya

Meskipun Beliau sudah mencapai Tingkat Kesucian Tertinggi, Arahat,
dan mempunyai kemampuan fisik dan batin yang amat tinggi,
tetapi Beliau meninggal dengan cara yang amat menyedihkan,
yaitu dikepung oleh para penjahat dan dipukuli sampai meninggal dunia.

Setelah menceritakan perbuatan Bhikkhu Moggallana di masa yang lampau,
Sang Buddha lalu berkata :

"O Para Bhikkhu, karena perbuatan buruk yang telah dilakukannya, 
pada salah satu kehidupannya di masa yang lampau, 
dengan membunuh Ayah dan Ibunya yang buta, 
ia harus menerima kematiannya dengan cara yang mengerikan seperti itu.

Inilah kelahirannya yang terakhir di dalam lingkaran Samsara ini,
meskipun ia telah menjadi Orang suci, 
ia tetap tidak dapat melarikan diri 
dari akibat perbuatan buruk yang telah dilakukannya."

* * * * * 

03 Juli 2010

Ibu Yang Salah Mendidik Anak

Ibunya segera dibawa untuk menemuinya, si pencuri itu lalu memeluk Ibunya,
dan dengan segera ia menggigit telinga Ibunya.
Pengawal melaporkan kejadian itu kepada Raja, dan si pencuri lalu dibawa menghadap Raja.

Saya pikir inilah saat yang terakhir kalinya,
saya harus mengajarkan kepadanya sebuah pelajaran,
supaya Ibu-ibu yang lain akan belajar dari kejadian ini,
bahwa mereka harus membimbing Anak-anaknya menuju jalan yang bersih. 

Inilah penjelasan saya Yang Mulia, mengapa saya menggigit telinga Ibu saya."

* * * 

Para Orangtua harus menjaga tingkah laku Anaknya, 
apalagi ketika mereka masih kecil, 
bila mereka melakukan perbuatan yang kurang baik, 
Orangtuanya harus segera mengingatkan akibat perbuatan yang kurang baik itu, 
dan harus memperbaikinya.

* * * * *

Lagu Pujian untuk Ibu

Pada suatu peristiwa, seorang Dewa bertanya kepada Sang Buddha :

"Siapakah Teman yang paling baik bagi orang yang ada di rumah ?"

"Ibu adalah Teman yang paling baik di rumah," jawab Sang Buddha Gotama.

* * * 

Di dalam Sona Nanda Jataka

Boddhisatta menyanyikan lagu pujian untuk Ibu, sebagai berikut :

Ia baik hati dan penuh perhatian kepada kita
Ia menyusui kita dengan air susunya
Seorang Ibu adalah jalan menuju ke surga
Ia amat menyayangi kita

Pangeran yang Mencabut Tanaman

"Yang Mulia, janganlah khawatir, saya akan memperbaiki sifatnya yang buruk itu."

Pangeran lalu mencicipi daun pohon Neem itu ke dalam mulutnya,
ia merasakan daun pohon itu amat pahit,
"Kalau daunnya saja sudah begitu pahit ketika pohon ini masih kecil,
bagaimana pahit daunnya apabila pohon ini sudah benar-benar besar." kata Pangeran kecil itu.

* * *

Kalau ia sudah begitu kejam ketika ia masih kecil, 
bagaimana kejamnya ia apabila ia sudah menjadi seorang Raja. Mengertikah Anakku ?"

Setelah Pangeran dewasa, menggantikan Ayahnya yang sudah tua, menjadi Raja,
ia menjadi Raja yang adil dan bijaksana yang dicintai oleh seluruh Rakyatnya.

* * * * *

18 Mei 2010

Ibu Yang Tidak Akan Menyakitit Anaknya

Kedua wanita itu bertengkar, memperebutkan bayi mungil itu.
“Apakah kalian berdua akan dapat menerima keputusan saya ?”.

Setelah kedua-duanya sudah memegang lengan dan kaki bayi tersebut,
Pertapa meminta mereka untuk saling menarik lengan dan kaki bayi tersebut.

Dengan segera bayi itu menangis kesakitan.
Ibu muda itu segera berhenti menarik dan melepaskan bayinya, ia menangis tersedu-sedu.

Kedua wanita itu menjawab :
“Ibu sejati adalah Wanita yang melepaskan Anaknya, karena ia tidak ingin menyakitinya”. 

* * * * *